Program NTB Zero Waste itu tanggung jawab pemerintah
dan masyarakat. Pemerintah dari tingkat Propinsi hingga ketua RT harus yakin
dan jelas memandang hal itu akan berhasil dengan baik. Setiap instansi
pemerintah maupun swasta andil secara langsung dalam proses menuju zero waste. Kepercayaan
atas kesuksesan program ini sangat penting. Hal ini dapat memacu dan
mempermudah merealisasikan program yang terencana dan berkesinambungan.
Program pemerintah ini sangat efektif bila
didukung oleh setiap individu. Karena kita merupakan penghasil sampah terbesar, di sampang
pabrik dan lainnya. Jumlah penduduk NTB yang tercatat dalam www.ntbprov.go.id sejumlah 4.500.212 jiwa dengan luas wilayah
20153,15 km2. Jika setiap individu menyisakan sampah tiga buah dalam
satu hari maka berapa banyak sampah dalam satu bulan di NTB? Hal ini membuka
pikiran baru setiap individu agar secara
individual maupun bersama-sama tumbuh semangat mengubah cara pandang terhadap
sampah. Baik dalampengelolaan secara individu maupun bersama-sama semacam
pengadaan bank sampah dan lainnya.
Dalam pengelolaan secara individual,
sejarah telah terukir, dengan kisah Ummu Mahjan. Dia seorang wanita yang lemah
fisiknya, juga tidak memiliki harta yang banyak. Dia bukan seorang pejabat,
bukan seorang saudagar, bukan ahli ilmu pengetahuan bukan juga seorang hafidzah.
Dia terpanggil ikut serta bertanggung
jawab dalam kehidupan. Kemampuannya sederhana, yaitu mengumpulkan sampah dan
dedaunan (membersihkan) masjid Nabi dan sekitarnya. Dia lakukan hal itu dengan
rasa ihlas, terus menerus dan tekun hingga meninggal dunia.
Setelah
dia meninggal tidak tampak lagi di sekitar masjid. Rasulullah mencarinya saat
wanita itu tidak tampak. Baginda Rasulullah menunjukkan kecewa kepada para
sahabat karena tidak diberitahukan kepergiannya. Setelah Rasulullah bertanya
dan mendapatkan kabar bahwa Ummu Mahjan
telah meninggal, Beliau meminta ditunjukan makamnya. Kemudian beliau pun
menyolatkannya. Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan
kegelapan atas penghuninya dan Allah menerangi mereka karena aku telah
menyalatkannya.”
Luar biasa apresiasi yang diterima
seorang yang tanggap terhadap sampah karena di dasari keyakinan keihlasan yang
mendalam. Tentu saja kita yang menginjakkan kaki di provinsi NTB dengan program
Zero Waste sangat bersyukur bila bisa
ikut serta mengambil peran sesuai kemampuan, dan terus menerus menekuninya.
Keberadaan kita dimana pun peka terhadap sampah. Jika tiap individu memiliki
kesadaran yang mendalam melakukan sesuatu untuk kemanfaatan) tentang sampah,
maka keluarga, instansi pemerintah maupun swasta, serta masyarakat akan lebih
untuk mudah mewujudkan program unggulan pemerintah setempat.
Kesadaran diri atas sampah menumbuhkan
semangat kebersamaan mengelola sampah dengan ramah dan bijaksana. Sampah
tersebut dikelola dengan baik, sehingga tidak menimbulkan masalah. Baik sampah
organik, sampah anorganik yang berupa plastik maupun sampah berbahaya. Tiga
konsep dasar pengelolaan sampah dapat dipahami dengan penuh kesadaran. Dalam
hal ini setiap individu sangat diharapkan bisa menempatkan sampah sesuai
jenisnya. Sampah plastik, sampah organik, dan sampah beracun atau yang
berbahaya terletak pada tempat yang terpisah. Langkah selanjutnya adalah
melakukan tindakan reduce, reuse, dan recycle terhadap sampah.
Reduce sampah atau mengurangi jumlah
sampah. Bagi keluarga ini dapat dilakukan dengan belanja membawa tas dari
rumah, membawa tempat sendiri. Membeli barang isi ulang dengan bungkus yang besar. Menggunakan tempat
makan atau minum yng bisa dicuci dan di pakai kembali, bukan habis pakai
dibuang. Demikian pula bila bepergian mmembawa makanan dan minuman sendiri
dengan tempat yang serupa. Bungkus atau sampah yang dibuang bisa dikemas rapi,
masukkan ke dalam tas kemudian dibuang pada tempatnya. Bila belanja bisa
membawa kantong sendiri. Memilih belanja kemasan refeil / isi ulang yang berukran besar. Setiap individu komitmen dengan kebiasaan ini
maka indah. Sehingga mengurangi bungkus plastik atau pun sampah lainnya
menumpuk di rumah sendiri, di kantor/ instansi, maupun di lokasi lain. Dalam
hal ini pemerintah juga mengantisipasi dengan beredarnya produk pemicu sampah
plastik yang semakin menjamur. Upaya mensubstitusi barang yang sulit terurai, diganti dengan bahan
yang mudah terurai. Karena masyarakat akan terus mengkonsumsi jika barang
tersebut ada ada dan dipromosikan terus menerus.
Reuse, atau menggunakan kembali.
Barang-barang bekas yang menjadi sampah dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan
yang lain. Misalnya ban mobil (bekas), digunakan untuk meja-kursi, media tanam,
alat permainan anak, hiasan taman dan sebagainya. Kantong yang kuat (seperti
bekas minyak goreng) bisa digunakan sebagai polybag/
media tanaman. Ini bisa dilakukan oleh keluarga maupun intansi/ kantor/
sekolah. Agar tampak rapi dan indah penggunaannya bisa bekerja sama dengan
penata taman. Reuse ini dapat menghemat barang, dan membuat nilai kreatifitas
individu bertambah, bahkan bisa menambah pendapatan.
Recycle. Daur ulang sampah. Sampah
plastik yang sulit hancur bisa di daur ulang menjadi paping blok dengan memanaskan
pada suhu yang tinggi kemudian dicetak. Di buat ekobrik (Ecobrick), dengan cara memotong kecil-kecil sampah plastic kemudian
dimasukkan ke dalam botol plastik bekas dan ditekan agar padat. Kemudian
tambahkan warna agar indah. Botol yang sudah terisi dapat dijadikan tempat
duduk ataupun lainnya. Sampah organik dapat dipupuk kompos. Sampah oganik ini
bisa diratuh pada ember tersusun (ember tumpuk) yang dibuat penyaring dan
bawaahnya dibuatkan kran. Maka sampah berubah menjadi lindi (pupuk cair). Caa
lain juga sampah bisa menjadi pupuk kompos padat. Sampah daun bisa menjadi bio
massa, dengan cara menyimpannya dalam keranjang dan terkena sinar matahari. Hak
ini secara individual bisa dilakukan dalam rumah tangga. Dalam program
kebersamaan sangat bisa untuk dikembangkan menjadi pupuk komudite. Manfaat daur
uang sampah organik ini selain bersih dan membuat tanah subur alami, bisa
menekan peasuknya pupuk kimia pada tanaman di pekarangan rumah. Sehingga lingkungan
bersih, sehat, subur dan menghasilkan tanaman organik.
Tentu saja secara pribadi tidak semuanya
bisa dilakukan, tetapi jika sadar dan terbiasa maka individu itu akan mampu
memberikan teladan bagi diri sendiri dan orang lain. untuk menggerakkan roda
kemajuan NTB dalam mewujudkan NTB Zero Waste 2023.
Penulis
bernama Siti Khusnul Khotimah, S.Pd.
#LOMBOK POST Rabu, 18 Nop 2019
