Friday, October 4, 2019

ZERO WASTE



KIPRAH INDIVIDU MENUJU NTB ZERO WASTE


          Program NTB Zero Waste itu tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dari tingkat Propinsi hingga ketua RT harus yakin dan jelas memandang hal itu akan berhasil dengan baik. Setiap instansi pemerintah maupun swasta andil secara langsung dalam proses menuju zero waste. Kepercayaan atas kesuksesan program ini sangat penting. Hal ini dapat memacu dan mempermudah merealisasikan program yang terencana dan berkesinambungan.
             Program pemerintah ini sangat efektif bila didukung oleh setiap individu. Karena kita  merupakan penghasil sampah terbesar, di sampang pabrik dan lainnya. Jumlah penduduk NTB yang tercatat dalam www.ntbprov.go.id  sejumlah 4.500.212 jiwa dengan luas wilayah 20153,15 km2. Jika setiap individu menyisakan sampah tiga buah dalam satu hari maka berapa banyak sampah dalam satu bulan di NTB? Hal ini membuka pikiran baru setiap individu  agar secara individual maupun bersama-sama tumbuh semangat mengubah cara pandang terhadap sampah. Baik dalampengelolaan secara individu maupun bersama-sama semacam pengadaan bank sampah dan lainnya.
            Dalam pengelolaan secara individual, sejarah telah terukir, dengan kisah Ummu Mahjan. Dia seorang wanita yang lemah fisiknya, juga tidak memiliki harta yang banyak. Dia bukan seorang pejabat, bukan seorang saudagar, bukan ahli ilmu pengetahuan bukan juga seorang hafidzah.  Dia terpanggil ikut serta bertanggung jawab dalam kehidupan. Kemampuannya sederhana, yaitu mengumpulkan sampah dan dedaunan (membersihkan) masjid Nabi dan sekitarnya. Dia lakukan hal itu dengan rasa ihlas, terus menerus dan tekun hingga meninggal dunia.
 Setelah dia meninggal tidak tampak lagi di sekitar masjid. Rasulullah mencarinya saat wanita itu tidak tampak. Baginda Rasulullah menunjukkan kecewa kepada para sahabat karena tidak diberitahukan kepergiannya. Setelah Rasulullah bertanya dan mendapatkan kabar bahwa  Ummu Mahjan telah meninggal, Beliau meminta ditunjukan makamnya. Kemudian beliau pun menyolatkannya. Dan beliau bersabda, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah menerangi mereka karena aku telah menyalatkannya.”
            Luar biasa apresiasi yang diterima seorang yang tanggap terhadap sampah karena di dasari keyakinan keihlasan yang mendalam. Tentu saja kita yang menginjakkan kaki di provinsi NTB dengan program Zero Waste sangat bersyukur bila bisa ikut serta mengambil peran sesuai kemampuan, dan terus menerus menekuninya. Keberadaan kita dimana pun peka terhadap sampah. Jika tiap individu memiliki kesadaran yang mendalam melakukan sesuatu untuk kemanfaatan) tentang sampah, maka keluarga, instansi pemerintah maupun swasta, serta masyarakat akan lebih untuk mudah mewujudkan program unggulan pemerintah setempat.
            Kesadaran diri atas sampah menumbuhkan semangat kebersamaan mengelola sampah dengan ramah dan bijaksana. Sampah tersebut dikelola dengan baik, sehingga tidak menimbulkan masalah. Baik sampah organik, sampah anorganik yang berupa plastik maupun sampah berbahaya. Tiga konsep dasar pengelolaan sampah dapat dipahami dengan penuh kesadaran. Dalam hal ini setiap individu sangat diharapkan bisa menempatkan sampah sesuai jenisnya. Sampah plastik, sampah organik, dan sampah beracun atau yang berbahaya terletak pada tempat yang terpisah. Langkah selanjutnya adalah melakukan tindakan reduce, reuse, dan recycle terhadap sampah.       
Reduce sampah atau mengurangi jumlah sampah. Bagi keluarga ini dapat dilakukan dengan belanja membawa tas dari rumah, membawa tempat sendiri. Membeli barang isi ulang  dengan bungkus yang besar. Menggunakan tempat makan atau minum yng bisa dicuci dan di pakai kembali, bukan habis pakai dibuang. Demikian pula bila bepergian mmembawa makanan dan minuman sendiri dengan tempat yang serupa. Bungkus atau sampah yang dibuang bisa dikemas rapi, masukkan ke dalam tas kemudian dibuang pada tempatnya. Bila belanja bisa membawa kantong sendiri. Memilih belanja kemasan refeil / isi ulang yang berukran besar.  Setiap individu komitmen dengan kebiasaan ini maka indah. Sehingga mengurangi bungkus plastik atau pun sampah lainnya menumpuk di rumah sendiri, di kantor/ instansi, maupun di lokasi lain. Dalam hal ini pemerintah juga mengantisipasi dengan beredarnya produk pemicu sampah plastik yang semakin menjamur. Upaya mensubstitusi  barang yang sulit terurai, diganti dengan bahan yang mudah terurai. Karena masyarakat akan terus mengkonsumsi jika barang tersebut ada ada dan dipromosikan terus menerus.
Reuse, atau menggunakan kembali. Barang-barang bekas yang menjadi sampah dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan yang lain. Misalnya ban mobil (bekas), digunakan untuk meja-kursi, media tanam, alat permainan anak, hiasan taman dan sebagainya. Kantong yang kuat (seperti bekas minyak goreng) bisa digunakan sebagai polybag/ media tanaman. Ini bisa dilakukan oleh keluarga maupun intansi/ kantor/ sekolah. Agar tampak rapi dan indah penggunaannya bisa bekerja sama dengan penata taman. Reuse ini dapat menghemat barang, dan membuat nilai kreatifitas individu bertambah, bahkan bisa menambah pendapatan.
Recycle. Daur ulang sampah. Sampah plastik yang sulit hancur bisa di daur ulang menjadi paping blok dengan memanaskan pada suhu yang tinggi kemudian dicetak. Di buat ekobrik (Ecobrick), dengan cara memotong kecil-kecil sampah plastic kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik bekas dan ditekan agar padat. Kemudian tambahkan warna agar indah. Botol yang sudah terisi dapat dijadikan tempat duduk ataupun lainnya. Sampah organik dapat dipupuk kompos. Sampah oganik ini bisa diratuh pada ember tersusun (ember tumpuk) yang dibuat penyaring dan bawaahnya dibuatkan kran. Maka sampah berubah menjadi lindi (pupuk cair). Caa lain juga sampah bisa menjadi pupuk kompos padat. Sampah daun bisa menjadi bio massa, dengan cara menyimpannya dalam keranjang dan terkena sinar matahari. Hak ini secara individual bisa dilakukan dalam rumah tangga. Dalam program kebersamaan sangat bisa untuk dikembangkan menjadi pupuk komudite. Manfaat daur uang sampah organik ini selain bersih dan membuat tanah subur alami, bisa menekan peasuknya pupuk kimia pada tanaman di pekarangan rumah. Sehingga lingkungan bersih, sehat, subur dan menghasilkan tanaman organik.
Tentu saja secara pribadi tidak semuanya bisa dilakukan, tetapi jika sadar dan terbiasa maka individu itu akan mampu memberikan teladan bagi diri sendiri dan orang lain. untuk menggerakkan roda kemajuan NTB dalam mewujudkan NTB Zero Waste 2023.
             

Penulis bernama Siti Khusnul Khotimah, S.Pd.
#LOMBOK POST Rabu, 18 Nop 2019 





No comments:

Post a Comment